Sepenggal Kata Untuk sang Uni
Teruntuk kakak ku yang memasuki usia
26 tahun
Uni...
Uni adalah panggilan untuk seorang kakak di tanah
kelahiranku, Bukittinggi, Sumatera Barat. Aku memiliki seorang kakak perempuan,
orang tua kami memberinya nama Erni Fitri Wahyuni dan aku memanggilnya uni.
waktu kecil aku sangat mengagumi kakak ku itu. dia sangat pintar, berani, dan
pandai bergaul, dan selalu punya banyak teman dimanapun dia berada. dia juga
anak yang paling cantik diantara kami bertiga saat itu.
Sejatinya uni merupakan anak ketiga dalam
keluarga kami, sebelumnya kami sudah memiliki dua saudara laki-laki, namun dia
tetap seolah-olah menjadi anak pertama karena kakak ku yang kedua meninggal waktu
kecil sebelum aku dilahirkan dan kakak pertamaku sudah merantau sejak dia berusia 9
tahun. Mungkin karena itu uni jadi sangat berani, dan pintar sekali. aku
bahkan baru menyadari bahwa dia bukan kakakku satu-satunya saat berusia 6
tahun, ketika abangku pindah sekolah d kampung dan aku masuk sekolah dasar.
Kakak ku sangat ambisius, pintar dan menarik
mungkin karena dia selalu punya banyak teman berkali lipat dari aku.
Pernah kami luput dari persidangan ayah, dan
waktu itu kejadian paling ekstrim yang aku rasakan. Teringat saat kami berkejaran
keliling rumah, keliling halaman bahkan sampai keluar masuk kandang hanya untuk
melepas kekesalan dan aku dengan sigap berlari dan bersembunyi untuk
menyelamatkan diri dari kemarahan kakak ku :D
Entahlah ngga tau waktu itu masalahnya apa, tp
yang jelas waktu itu rasanya aku sangat ketakutan, sehingga harus berlari dan
bersembunyi. tapi uni selalu mengejar sampai akhirnya aku berhasil masuk
kedalam rumah dan mengunci semua pintu dari dalam. Uni yang menurutku sangat
ambisius dan keras kepala tetap mencari cara supaya bisa masuk kedalam rumah dengan
cara memanjat jendela. Saat itu rumah kami masih rumah tradisional, rumah
papan yang dibagian bawahnya terdapat kandang yang biasa digunakan untuk kandang
ayam. Yah, bertahun-tahun kami hidup rukun berdampingan dengan ayam-ayam, bahkan
berlomba-lomba bangun lebih pagi antara ayam dan penghuni rumah haha. Mungkin
karena itu juga ada yang mengatakan bahwa "jangan bangun kesiangan, nanti
rejekinya dipatok ayam", bagaimana tidak wong hidup berdampingan kok, ya
langsung d patok :D (itu asumsiku ) jendelanya tinggi sekitar 1,2 m, sehingga
untuk anak kecil seusia kami waktu itu harus memanjat dulu baru bisa melihat kedalam rumah.
Uni dengan kesalanya memegang sendok teh mendorong
jendela, mungkin dikira aku lupa menguncinya, sementara di balik kaca aku mengejek dengan senang karena dia tidak mungkin bisa masuk kedalam rumah. Namun
seketika jedarrrrr kaca pecah dan salah
satu pecahannya tertancap tegas ditanganku. Spontan aku langsung menangis tanpa
suara, dia langsung membuka pintu dan mencabut kaca dari tanganku yang langsung mengeluarkan darah bnyak sekali. Saat itu aku dan kakak ku sangat
cemas, mungkin dia merasa bersalah terhadap tindakannya yang membuat tanganku
terluka.
Melihat luka di tanganku dia langsung melompat ke
halaman dan masuk ke kebun d samping rumah. Saat itu aku tidak tau apa yang
dicarinya, ternyata dia mencari dedaunan yang pahit lalu dikunyah dmulutnya dan
menempelkannya ditanganku seraya berbisik kamu sih bikin kesel, lalu dengan
sedikit cemas dia berkata "udah jangan sampai ketahuan ama dan abak ya,
nanti kita dimarahi", dengan polos aku mengangguk sambil mengucurkan air
mata.
Sejak hari itu aku tidak pernah bertemu kedua
orang tua seminggu lamanya, sampai lukaku sembuh. Selalu tidur dirumah
nenek (orangtua ibu) yang rumahnya hanya di samping rumah kami, dan saat orang tua kami berangkat aku
mengeluarkan kepalaku d jendela sekedar untuk menyapa mereka, sebenarnya supaya
mereka tidak curiga dan mencari aku yang tidak pernah terlihat. Sejak itu
aku hanya menyapa orangtua saat mereka berangkat dan pulang melalui jendela
rumah nenek. Setelah mereka pergi baru masuk ke rumah dan beraktifitas seperti
biasa. kerjasama antara aku dan uni terbangun disitu, dia memata-matai orang
tua dan aku bersembunyi mengikuti komandonya.
Sampai hari ini orang tua kami tidak pernah tahu
kalau d tanganku ada bekas luka krna pecahan kaca yang pecah karna kakakku.
Dari kejadian itu aku belajar sesuatu, belajar tentang saling melindungi,
belajar menahan emosi, belajar untuk tidak menyakiti orang lain, dan belajar
bekerjasama.teringat hari itu rasanya keren sekali di usia segitu kita
bekerjasama menyembunyikan sesuatu, ceritanya demi kebaikan bersama, agar
orangtua tidak cemas dan marah dan agar kita mampu menyelesaikan masalah kita
sendiri.
Sekarang dia sudah berubah, bahkan namanya saja
sudah berubah,, Erni Fitri Wahyuni, S.Pd.I. Sekarang dia sudah menjadi orang
dewasa, sudah menjadi bu guru, dia smulai sibuk dengan kerjaannya
yang sangat ribet. Ternyata waktu bergulir sangat cepat, rasanya baru kemaren
kita bermain bersama, berayunan dengan ayunan papan yang dibuatkan abak.
sekarang kita telah menjadi orang dewasa. waktu ternyata berlalu
sangat cepat mungkin benar kata pujangga bahwa "waktu itu seperti busur
panah, jika sudah terlepas maka akan berlalu dengan sangat cepat dan tak akan
kembali"
Uni,,,
Selamat ulang tahun, sekarang kita bukan anak
kecil lagi yang bisa bermain dan tertawa lepas di halaman dan bertengkar dengan
tiba-tiba lalu berdamai dengan sendirinya. kita sudah dewasa, kita mulai
memasuki kehidupan layaknya orang dewasa yang mulai seibuk dengan urusan
masing-masing. Kita sudah diambang pintu perpisahan, kita benar-benar sudah
terpencar-pencar, Jogja-cikarang-padang dan bukittinggi...
Uni,,,
ingatlah untuk melewati sebuah perjalanan panjang
tidaklah mudah, jika suatu hari nanti uni merasa lelah berhentilah sejenak, lihat kami di
sekelilingmu kita akan selalu berjalan bersama. bukankah kita selalu diajarkan
untuk saling melindungi dan saling mendukung.
Happy Birthday my sista..
With You All The best
your sister

Tidak ada komentar:
Posting Komentar