Kamis, 22 Desember 2016

Momentum Hari Ibu

Hari Ibu, Momentum untuk Kaum Ibu Masa Depan.


Hari ibu merupakan momentum dimana kita memberikan apresiasi kepada kaum ibu dengan kondisi apapun. Satu hal yang sering menjadi sebuah fenomena dlingkungan sekitar kita, dimana setiap orang beramai2 mengucapkan selamat hari ibu, mulai dari memberi hadiah, mengucapkan langsung atau hanya melalui sosmed diselipi dengan potongan foto sang ibu. Hal ini merupakan suatu yang wajar ,mengungkapkan ucapan terimakasih kepada sang ibu yang sudah banyak berkorban untuk anaknya. Didunia ini tidak ada satupun ibu yang tidak berkorban untuk anaknya, sekalipun anak yang tak diinginkan dia pasti mengorbankan sesuatu. Bahkan Islam pun sangat memuliakan Ibu, bagaimana kita sangat dianjurkan memuliakan ibunya pernah diingatkan bahwa tiga kali penghargaan teradap ibu, yang keempat barulah kepada ayah, artinya perempuan sangat mendapat penghargaan yang sangat tinggi dalam Islam.
Terkait dengan Hari Ibu, satu hal yang kadang dilupakan bahwa ketika dilihat secara historis banyak yang melenceng memaknai hari ibu. Bahkan ketika seseorang ditanya kenapa 22 desember disebut hari ibu kenapa tidak 21 april saja sekalian dengan hari kartini? Jarang ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Setiap tahun kita merayakan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu asal usul dari kegiatan tersebut.
Bila menelusuri sejarahnya, peringatan Hari Ibu sekarang ini dapat dikatakan kurang tepat. Peringatan Hari Ibu di negeri ini lebih banyak mengacu pada Mother’s Day di barat. Padahal, Hari Ibu di negeri ini mengacu pada perjuangan pahlawan-pahlawan perempuan pendiri bangsa. Pada 22 Desember 1928, organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di yogjakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kemudian, Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316/1959 menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional.
Sekarang Hari ibu dimaknai sangat dangkal dengan menjadikan hari tersebut sebatas moment pamer status untuk menghargai pengorbanan ibu. Sementara dalam sejaranya hari ibu muncul dari sebuah pergerakan yang sangat besar. Seharusnya peringatan Hari Ibu tidak hanya dimaknai sebagai hari mengungkapkan kasih sayang dan memanjakan ibu. Itu tidak salah, namun seharusnya kita mengambil semangat yang dimiliki para pahlawan perempuan seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, dan Rangkayo Rasuna Said. Semangat mereka adalah semangat memperjuangkan hak-hak perempuan.
Hari ini perjuangan kaum perempuan bukan hanya penghapusan deskriminasi terhadap kaum perempuan yang menitik beratkan pada faktor eksternal. Namun perjuangan yang relevan sekarang adalah pembangunan intelektual dan mental perempuan iu sendiri. Faktor dominan yang menjadi sumber permasalahan dalam mewujudkan kesetaraan gender hari ini bukan lagi karena tekanan dari kaum laki2 atau faktor eksternal saja, tapi permasalahannya adalah perempuan juga  tidak mampu meningkatkan kualitasnya (faktor internal).
 Perjuangan sekarang adalah bagaimana seorang perempuan mampu menjadikan dirinya berdaya melalui pengembangan intelektual dan mental yang kuat. Bukan perempuan perempuan yang terus mengangankan seorang pangeran kaya raya penuh cinta yang suatu hari akan hadir dalam dhidupnya dan setelah itu hidupnya akan berubah dengan apa yang diberikan oleh sang pangeran.  Perempuan harus mampu menciptakan perubahan mulai dari dirinya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain.
Dihari ibu ini mari kita mulai bergerak maju untuk meningkatkan kualitas perempuan dan mengedepankan rasionalitas. Memposisikan perasaan sebagai kontrol agar tidak membabi buta terbawa perasaan. Ketika perempuan Indonesia memiliki kualitas yang baik maka apapun kesulitan akan mampu dihadapi melalui kebijaksanaan, bahkan ketidaksetaraan yang didapat dr keluarga akan dapat berkurang dengan kemampuan memberikan pengertian yang bijak tanpa harus membuat pertentangan.
Kedepannya banyak tanggungjawab dipundak kita, dikatakan bahwa Perempuan tiang Negara jika 40% rakyat Indonesia yang menjadi tiang Negara rusak, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Kita merusak segalanya, mulai dari hal terkecil,orang tua,suami dan masyarakat bahkan keturunan kita akan ikut rusak karena rendahnya kualitas perempuan yang digadang-gadang sebagai sekolah pertama bagi anak. Mari berbenah untuk menjadi perempuan yang mampu menciptakan perubahan dari diri sendiri dan mampu menularkan manfaatnya bagi orang lain.

 
Tentang Penulis
Elfi Suharni
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Aktif di lembaga Keperempuanan salah satu organisasi Mahasiswa Islam

Ketua Bidang Internal KOHATI HMI Cabang Yogyakarta