Hari Ibu, Momentum
untuk Kaum Ibu Masa Depan.
Hari ibu merupakan momentum
dimana kita memberikan apresiasi kepada kaum ibu dengan kondisi apapun. Satu
hal yang sering menjadi sebuah fenomena dlingkungan sekitar kita, dimana setiap
orang beramai2 mengucapkan selamat hari ibu, mulai dari memberi hadiah,
mengucapkan langsung atau hanya melalui sosmed diselipi dengan potongan foto
sang ibu. Hal ini merupakan suatu yang wajar ,mengungkapkan ucapan terimakasih
kepada sang ibu yang sudah banyak berkorban untuk anaknya. Didunia ini tidak
ada satupun ibu yang tidak berkorban untuk anaknya, sekalipun anak yang tak
diinginkan dia pasti mengorbankan sesuatu. Bahkan Islam pun sangat memuliakan
Ibu, bagaimana kita sangat dianjurkan memuliakan ibunya pernah diingatkan bahwa
tiga kali penghargaan teradap ibu, yang keempat barulah kepada ayah, artinya
perempuan sangat mendapat penghargaan yang sangat tinggi dalam Islam.
Terkait dengan Hari Ibu, satu
hal yang kadang dilupakan bahwa ketika dilihat secara historis banyak yang
melenceng memaknai hari ibu. Bahkan ketika seseorang ditanya kenapa 22 desember
disebut hari ibu kenapa tidak 21 april saja sekalian dengan hari kartini?
Jarang ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Setiap tahun kita merayakan
sesuatu yang kita sendiri tidak tahu asal usul dari kegiatan tersebut.
Bila menelusuri sejarahnya, peringatan Hari Ibu sekarang ini
dapat dikatakan kurang tepat. Peringatan Hari Ibu di negeri ini lebih banyak
mengacu pada Mother’s Day di barat. Padahal, Hari Ibu di negeri ini mengacu
pada perjuangan pahlawan-pahlawan perempuan pendiri bangsa. Pada 22 Desember
1928, organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di yogjakarta
dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita
Indonesia (Kowani). Kemudian, Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No.
316/1959 menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional.
Sekarang Hari ibu dimaknai sangat dangkal dengan
menjadikan hari tersebut sebatas moment pamer status untuk menghargai
pengorbanan ibu. Sementara dalam sejaranya hari ibu muncul dari sebuah
pergerakan yang sangat besar.
Seharusnya peringatan Hari Ibu tidak hanya dimaknai sebagai hari mengungkapkan
kasih sayang dan memanjakan ibu. Itu tidak salah, namun seharusnya kita
mengambil semangat yang dimiliki para pahlawan perempuan seperti M. Christina
Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika,
Nyai Achmad Dahlan, dan Rangkayo Rasuna Said. Semangat mereka adalah semangat
memperjuangkan hak-hak perempuan.
Hari ini perjuangan kaum perempuan bukan hanya penghapusan
deskriminasi terhadap kaum perempuan yang menitik beratkan pada faktor
eksternal. Namun perjuangan yang relevan sekarang adalah pembangunan
intelektual dan mental perempuan iu sendiri. Faktor dominan yang menjadi sumber
permasalahan dalam mewujudkan kesetaraan gender hari ini bukan lagi karena
tekanan dari kaum laki2 atau faktor eksternal saja, tapi permasalahannya adalah
perempuan juga tidak mampu meningkatkan
kualitasnya (faktor internal).
Perjuangan sekarang
adalah bagaimana seorang perempuan mampu menjadikan dirinya berdaya melalui
pengembangan intelektual dan mental yang kuat. Bukan perempuan perempuan yang
terus mengangankan seorang pangeran kaya raya penuh cinta yang suatu hari akan
hadir dalam dhidupnya dan setelah itu hidupnya akan berubah dengan apa yang
diberikan oleh sang pangeran. Perempuan
harus mampu menciptakan perubahan mulai dari dirinya sendiri tanpa tergantung
kepada orang lain.
Dihari ibu ini mari kita mulai bergerak maju untuk
meningkatkan kualitas perempuan dan mengedepankan rasionalitas. Memposisikan
perasaan sebagai kontrol agar tidak membabi buta terbawa perasaan. Ketika
perempuan Indonesia memiliki kualitas yang baik maka apapun kesulitan akan
mampu dihadapi melalui kebijaksanaan, bahkan ketidaksetaraan yang didapat dr
keluarga akan dapat berkurang dengan kemampuan memberikan pengertian yang bijak
tanpa harus membuat pertentangan.
Kedepannya banyak tanggungjawab dipundak kita, dikatakan
bahwa Perempuan tiang Negara jika 40% rakyat Indonesia yang menjadi tiang
Negara rusak, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Kita merusak segalanya, mulai
dari hal terkecil,orang tua,suami dan masyarakat bahkan keturunan kita akan
ikut rusak karena rendahnya kualitas perempuan yang digadang-gadang sebagai
sekolah pertama bagi anak. Mari berbenah untuk menjadi perempuan yang mampu
menciptakan perubahan dari diri sendiri dan mampu menularkan manfaatnya bagi
orang lain.
Tentang
Penulis
Elfi
Suharni
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Aktif di lembaga Keperempuanan salah satu
organisasi Mahasiswa Islam
Ketua
Bidang Internal KOHATI HMI Cabang Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar