PERUBAHAN SOSIAL DAN
PENDIDIKAN
oleh Elfi Suharni
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Bahwa berbagai cara perubahan dalam
suatu masyarakat baik secara khusus sampai yang lebih luas, berawal dari sebuah
kondisi masyarakat, bangsa telah dilanda berbagai macam masalah mulai dari
kemiskinan, multikrisis, tirani, dan khususnya dalam bidang pendidikan yang
tentunya seluruh elemen masyarakat menghendaki untuk melakukan suatu perubahan
secara cepat. Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan-perubahan selama
hidupnya. Ada perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, ada
perubahan yang lambat ada pula perubahan yang cepat. Dengan diakuinya dinamika
sebagai inti jiwa masyarakat, banyak sosiolog modern yang mencurahkan
perhatiannya pada masalah-masalah sosial dan pendidikan dalam masyarakat.
Setiap saat masyarakat selalu mengalami
perubahan. Jika dibandingkan apa yang tejadi saat ini dengan beberapa tahun
yang lalu. Maka akan banyak ditemukan perubahan baik yang direncanakan atau
tidak, kecil atau besar, serta cepat atau lambat. Perubahan-perubahan tersebut
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan sosial yang ada.
Dimana manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Oleh karena
itu manusia selalu mencari sesuatu agar hidupnya lebih baik. Perubahan dalam
masyarakat memang telah ada sejak dahulu. Namun, dewasa ini perubahan-perubahan
tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga membingungkan manusia yang
menghadapinya, yang sering berjalan secara konstan. Ia memang terkait dengan
waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, perubahan
terlihat berlangsung terus, walau diselingi keadaan di mana masyarakat
mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan.
Sebagai contoh kasus, dahulu keluarga
sepenuhnya berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anak-anak yang belum
dewasa, sumber pengetahuan (pendidikan) dan keterampilan serta sumber ekonomi.
Namun, pada masa sekarang, fungsi keluarga mengalami perubahan. Anak-anak tidak
hanya memperoleh pengetahuan dari keluarga, tetapi juga melalui berbagai media
massa, seperti televisi, radio, koran dan internet. Perubahan sosial saat ini
sangat kompleks, meliputi berbagi unsur yang ada pada masyarakat, begitu juga
dengan masalah pendidikan yang selalu berkembang dikarenakan masyarakat yang
sangat dinamis.
Atas dasar problema di atas maka, penulis akan membahas masalah tersebut dalam
makalah yang berjudul perubahan sosial dan pendidikan (analisis geniusitas dan
inklusifitas).
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa Definisi
Perubahan Sosial Dan Pendidikan?
2.
Apa saja Teori-Teori
Perubahan Sosial?
3.
Apa saja Faktor-Faktor
Yang Menyebabkan Perubahan Sosial Dan Pendidikan?
4.
Apa saja Apa Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Proses Perubahan?
5.
Bagaimana Implikasi
Perubahan Sosial Pada Penyelenggaraan Pendidikan?
C.
TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Untuk mengetahui
Apa Definisi Perubahan Sosial Dan Pendidikan.
2.
Untuk mengetahui Teori-Teori
Perubahan Sosial.
3.
Untuk mengetahui Faktor-Faktor
Yang Menyebabkan Perubahan Sosial Dan Pendidikan.
4.
Untuk mengetahui Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Proses Perubahan.
5.
Untuk mengetahui Implikasi
Perubahan Sosial Pada Penyelenggaraan Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
1.
Definisi
Perubahan Sosial
Perubahan
sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses
pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola
pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan
penghidupan yang lebih bermartabat.
Pada dasarnya setiap masyarakat
yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa
yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut
akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbandingan dengan menelaah
suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan
keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di
dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini
berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami
perubahan-perubahan.
Tetapi perubahan yang terjadi antara
masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini
dikarenakan adanya suatu masyarakat yang mengalami perubahan yang lebih cepat
bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa
perubahan-perubahan yang tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu
perubahan. Juga terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas
maupun terbatas. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya
lambat, dan perubahan yang berlangsung dengan cepat.
Ada beberapa ahli sosiologi yang
memberikan definisi perubahan sosial, para sosilog maupun antropolog yang
membahas definisi perubahan sosial dan pendidikan. Diantaranya.
Selo Soemardjan: perubahan-perubahan pada
lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memenuhi sistem
sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara
kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang
kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
Mac Iver lebih suka membedakan antara utilitarian element dengan cultural element yang didasarkan pada
kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan
ciptaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori di atas. Sebuah
mesin ketik, printer, atau sistem keuangan merupakan utilitarian element karena benda-benda tersebut tidak langsung
memenuhi kebutuhan manusia, tetapi dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Utilitarian element disebutnya civilization. Artinya, semua mekanisme
dan organisasi yang dibuat manusia dalam upaya menguasai kondisi-kondisi
kehidupannya. Kultur menurut Mac Iver adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam
cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup,seni kesusastraan, agama, rekreasi
dan hiburan. Sebuah potret, novel, drama, film, permainan, filsafat dan
sebagainya, termasuk kultur karena hal-hal itu secara langsung memenuhi
kebutuhan manusia. Perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap
keseimbangan hubungan sosial.
Gillin dan Gillin mengatakan
perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang
telah diterima baik karena perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan
materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Gillin dan Gillin mengatakan
perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang
telah diterima baik karena perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan
materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
William F. Ogburn berusaha memberikan
pengertian tertentu, dia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial
meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material
maupun yang immaterial, yang
ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
Kingslay Davis mengartikan peerubahan
sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi
masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat
kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahn dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya
menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.
Secara singkat Samuel Koenig mengatakan
bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam
pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun
ekstern.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut,
dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam
struktur sosial dan lembaga sosial masyarakat. Perubahan sosial meliputi
perubahan dalam berbagai hal, seperti perubahan teknologi, perilaku, sistem
sosial dan norma. Perubahan tersebut mempengaruhi individu dalam masyarakat
tertentu. Dari pengertian-pengertian tersebut, bahwa dalam perubahan sosial
yang berubah adalah struktur dan fungsi sosialnya. Contoh: Perubahan dalam
struktur adalah perubahan jumlah penduduk, perubahan status sosial, perubahan
pelapisan sosial, sedangkan perubahan dalam fungsi sosial antara lain ayah di
rumah dan ibu bekerja. Di sini terjadi perubahan fungsi ayah dengan fungsi ibu.
2. Definisi
Pendidikan
M.J. Langeveld: Pendidikan
merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada
kedewasaan. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugastugas
hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila.
Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.
Stella van Petten Henderson :
Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan
warisan sosial.
Kohnstamm dan Gunning: Pendidikan
adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan
penetuan-diri secara etis, sesuai denga hati nurani.
John Dewey: Aducation is all one
with growing; it has no end beyond itself. (pendidikan adalah segala sesuatu
bersamaan dengan pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di
balik dirinya).
H.H Horne : Dalam pengertian luas,
pendidikan merupakan perangkat dengan mana kelompok sosial melanjutkan
keberadaannya memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.
Carter V. Good Pendidikan adalah
proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang
berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh
sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat
mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.
Thedore Brameld Istilah pendidikan
mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu
masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab
bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih
luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah
suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang.
Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi
dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan
proses pendidikan informal di luar sekolah).
Definisi Pendidikan menurut
Encyclopedia Americana: Pendidikan merupakan sebarang proses yang dipakai
individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan
sikap-sikap ataupun keterampilan-keterampilan.
Pengertian Pendidikan versi
Wikipedia Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat. Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif,
sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan
pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.
Dari berbagai pengertian-definisi
tersebut di atas dapat kita kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan gejala
insani yang fundamental dalam kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia
ke dunia peradaban. Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi
dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jatidirinya yang unik, bisa
bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan mengembangkan warisan-warisan
sosial generasi yang terdahulu.
B.
TEORI-TEORI
PERUBAHAN SOSIAL
Banyak dari ahli filsafat dan sosiolog berpendapat
bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala
wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ada yang berpendapat bahwa
perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan
keseimbangan masyarakat, misalnya perbahan dalam unsur-unsur geografis,
biologis, ekonomis, dan kebudayaan.
Ada pula yang berpendapat bahwa
perubahan-perubahan sosial bersifat periodik
dan non-periodik. Pendapat-pendapat
tersebut pada umumnya menyatakan bahwa perubahan merupakan lingkaran
kejadian-kejadian.
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa
segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan
tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak aka berhasil baik. Dia meragukan
kebenaran akan adanya lingkaran perubahan-perubahan sosial tersebut. Akan
tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran
terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut
barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi.
William F. Ogburn menekankan pada kondisi
teknologi dari kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya
perubahan disamping aspek ekonomi, geografis, dan biologis. Ada beberapa ahli
pula yang menyatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau
semua akan menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
1.
Teori
Siklus
Menurut teori siklus, proses
peralihan masyarakat tidak berakhir pada tahap akhir yang sempurna, melainkan
berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan tahap berikutnya. Pada teori
ini, perubahan sosial tidak dapat direncanakan atau diarahkan ke suatu titik
tertentu, tetapi berputar-putar menurut pola melingkar. Jadi, perubahan sosial
sebagai sesuatu yang berulang-ulang.
2.
Teori
Perkembangan
Teori perkembangan disebut juga
teori linier. Menurut pendapat teori ini, bahwa perkembangan menuju suatu
arah/titik tertentu, yang dimulai dari tahap perkembangan awal menuju tahap
perkembangan akhir.
Teori linier dibagi menjadi dua,
yaitu teori evolusi dan revolusi. Teori evolusi melihat perkembangan secara
lambat, sedangkan menurut teori revolusi, perubahan terjadi secara drastis
(cepat).
3.
Teori
Fungsional dan Konflik
Teori fungsional memandang bahwa
perubahan sosial sebagai sesuatu yang tetap atau permanen dan tidak memerlukan
penjelasan. Perubahan sosial dianggap mengacaukan keseimbangan rakyat. Proses
pengacauan tersebut berhenti pada saat perubahan yang ada telah diintegrasikan
ke dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan yang bermanfaat
(fungsional) akan diterima, dan perubahan yang tidak bermanfaat (disfungsional)
akan ditolak.
Teori konflik menilai bahwa yang
konstan adalah konflik sosial bukan perubahan. Perubahan hanyalah akibat dari
adanya konflik. Jika konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga
akan terus berlangsung.
4.
Teori
Unilinier
Teori ini menyatakan bahwa
masyarakat berkembang dari tahap sederhana menuju ke arah kompleks dan akhirnya
mencapai kesempurnaan.
5.
Teori
Universal
Teori ini menyatakan bahwa
perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap yang tetap. Karena
masyarakat selalu berkembang dari kelompok homogen menuju masyarakat yang
heterogen.
6.
Teori
Multilinier
Teori ini menekankan pentingnya
penelitian terhadap perkembangan tertentu dalam proses evolusi. Misalnya
peralihan masyarakat berburu ke masyarakat bercocok tanam dengan implikasi
kekeluargaannya.
C.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
Faktor-faktor
penyebab perubahan sosial dan kebudayaan berasal dari dalam masyarakat itu
sendiri dan juga berasal dari luar. Yang berasal dari dalam masyarakat itu
sendiri antara lain :
1.
Bertambahnya dan
Berkurangnya Peduduk
Sentralisasi pemerintahan dan juga pusat lapangan
kerja membuat banyak penduduk pedesaan melakukan urbanisasi ke kota-kota besar.
Sehingga terjadi bertambahan penduduk di daerah perkotaan dan juga berkurangnya
penduduk di daerah pedesaan. Kepadaatan pendudukan di kota besar telah
melahirkan berbagai perubahan dengan pengaruh yang besar. Areal tanah yang
dapat diusahakan menjadi lebih sempit; pengannguran semakin tampak. Banyak penduduk
bertempat tinggal di tempat yang tidak layak dan tidak pada tempatnya seperti
di kolong jembatan, di jalanan, di piarnggir sungai dan sebagainya.
Hal semacam itu membuat sistem sosial
tidak terkendali. Dan perubahan sosial berkembang kearah yang lebih buruk.
2. Penemuan-Penemuan
Baru dan Perkembangan Teknologi
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya
perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan
invention. Discvery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa
alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau
serangkaian ciptaan para individu.
Discovery baru menjadi invention kalu
masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu. Sering
kali proses dari discovery sampai ke invention mebutuhkan suatu rangkaian
pencipta-pencipta. Penemuan mobil misalnya dimulai dari usaha seorang Austria,
yaitu S.Marcus (1875) yang membuat motor gas yang pertama. Sebetulnya sistem
motor gas tersebut juga merupakan suatu hasil dari rangkaian ide yang telah
dikembangkan sebelum Marcus. Meskipun demikian, Marcus lah yang membulatkan
penemuan tersebut, dan yang untuk pertama kali yang menghubungkan motor gas
dengan sebuah kereta sehingga dapat berjalan tanpa ditarik seekor kuda itulah
saatnya mobil menjadi discovery. Jadi 30 tahun kemudian sesudah suatu rangkain
sumbangan dari sekian banyak pencipta lain yang menambah perbaikan mobil
tersebut, barulah sebuah mobil dapat mencapai suatu bentuk sehingga dapat
dipakai sebagai alat pengangkut oleh manusia dengan cukup praktis dan aman.
Bentuk mobil semacam itu yang mendapat paten di amerika serikat (1911) dapat
disebut sebagai permulaan dari kendaran mobil yang pada masa sekarang menjadi
salah satu alat yang amat penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan
tercapainya bentuk tersebut, kendaraan mobil menjadi suatu invention.
Pada saat penemuan menjadi invention,
proses inovasi belum selesai. Meskipun kira-kira sesudah 1911 produksi mobil
dimulai, mobil masih belum dikenal ole selurruh masyarakat. Penyebaran ala
pengangkutan tersebut harus dipropagandakan kepada khalayak ramai selain itu
biaya produksi mobil demikaian tingginya sehingga hanya suatu golongan sangat
kecil saja yang dapat membelinya. Masih diperlukan rangkain penelitian lain dan
penemuan-penemuan lain yang akan dapat menekan biaya produksi. Satu persoalan
lain yang juga harus dihadapi adalah apakah masyarakat sudah siap menerimanya
karena misalnya diperlukan pembuatan jalan-jalan raya yanga baru. Seluruh
proses tersebut merupakan rangkaian proses inovasi dari sebuah mobil.
Seperti halnya mobil, penemuan internet
juga telah mengubah sistem sosial dan sendi pokok kehidupan masyarakat.
Internet memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia kerena internet
menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan Negara lain sehingga
kebudayaan Indonesia terkikis oleh budaya global. Kebudayaan atau tradisi
gotong royong semakin lama semakin menghilang. Apalagi setelah adanya jejaring
sosial yang berupa facebook, twiter, dan sebagainya telah memberikan banyak
perubahan pada hubungan sosial antara setiap orang. Jejaring sosial telah
membuat hubungan sosial antara manusia yang saling berjauhan menjadi lebih dekat tapi,
seseorang lebih mempedulikan orang yang jauh dari pada orang yang didekatnya
3.
Pertentangan
(Conflict) Masyarakat
Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab
terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan yang kerap tejadi
antara generasi tua dan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian
akibat ketidak sefahaman antara keduanya tentang cara pandang kehidupan sosial
dan kebudayaan. Generasi muda menganggap geerasi tua itu kuno dan ketinggalan
zaman, mereka lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing (khususnya
kebudayaan barat) karena merasa kebudayaan asing lebih modern dan masa kini.
4.
Terjadinya
pemberontakan
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di rusia
telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula
mempunyai bentuk kerajaan absolute berubah menjadi dictator proletariat yang
dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari
bentuk Negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan-perubahan yang
mendasar.
D.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PROSES PERUBAHAN
1.
Faktor-Faktor
yang Mendorong Proses Perubahan
Di dalam masyarakat yang terjadi perubahan terdapat
faktor-faktor yang mendorong proses perubahan yang terjadi. Faktor-faktor
tersebut antara lain:
a.
Kontak dengan
kebudayaan lain. Kontak langsung maupun tidak langsung telah mendorong
terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Seperti contoh pengaruh adanya
masyarakat asing didaerah tertentu dan juga adanya internet yang menyebarkan
pengaruh kebudayaan asing.
b.
Sistem pendidian
formal yang maju. Pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan untuk
adanya perubahan yang menuju kearah yang lebih baik. SDM suatu tempat akan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena mereka lebih dapat memanaatkan Alam
dengan efektif dan efisien.
c.
Sikap menghargai
hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat
berpotensi untuk memajukan peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan
telepon. Pada awalnya telepon tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang
hebat mereka lebih meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui
fungsi sesungguhnya maka karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat.
Suatu perbuatan pasti diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita
berkembang kearah yang lebih baik. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan
keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat berpotensi untuk memajukan
peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan telepon. Pada awalnya telepon
tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang hebat mereka lebih
meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui fungsi sesungguhnya maka
karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat. Suatu perbuatan pasti
diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita berkembang kearah
yang lebih baik.
d.
Sistem terbuka
lapisan masyarakat. Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertical
yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas
dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan
mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai satus lebih tinggi.
Identifikasi merupakan tingkah laku yang sedemikian rupa sehngga seseorang
merasa berkedudukan sama dengan orang atau golongan lain yang dianggap lebih tinggi
dengan harapan agar diperlakukan sama dengan golongan tersebut. Identifikasi
terjadi dalam hubungan super ordinasi-subordinasi. Pada golongan yang
berkedudukan lebih rendah acap kali terdapat perasaan tidak puas terhadap
kedudukan sosial sendiri. Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut
status-anxiety. Status anxiety menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan
kedudukan sosialnya.
e.
Penduduk yang
heterogen. Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang
mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi yang berbeda mudah terjadinya
pertentangan-pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan
demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam
masyarakat.
f.
Ketidakpuasan
masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
E.
IMPLIKASI
PERUBAHAN SOSIAL PADA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Adanya pendidikan dapat mempengaruhi perubahan
sosial, yang mana perubahan sosial nantinya akan mempunyai fungsi (1) melakukan
reproduksi budaya, (2) difusi budaya, (3) mengembangkan analisis kultural
terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, (4) melakukan perubahan-perubahan
atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional, dan (5) melakukan
perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional
yang telah ketinggalan.
Sekolah berperan sebagai reproduksi budaya yang
maksudnya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi
semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang
lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.
Pada masa-masa proses industrialisasi dan
modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan
baru, seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi
sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, di mana
nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial
suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif
ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama,
pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua
itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari
perubahan sosial. Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara
analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang
kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam
menguasai alam sekitarnya.
Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi
sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya
(cultural diffussion). Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil
tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut
bukan hanya menyebarkan penemuan-penemuan dan informasi-informasi baru tetapi
juga menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya
itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi
terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.
Pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka untuk
meningkatkan kemampuan analisis kritis yang berperan untuk menanamkan
keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia.
Pendidikan dalam era abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan
daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada
situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan.
Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari
ketergantungan dan kebiasaan berlindung pada orang lain, terutama pada mereka
yang berkuasa. Pendidikan ini terutama diarahkan untuk mempenoleh kemerdekaan
politik, sosial dan ekonomi, seperti yang diajukan oleh Paulo Friere. Dalam
banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju, pendidikan orang dewasa
telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga masalah kemampuan kritis ini telah
berlangsung dengan sangat intensif. Pendidikan semacam itu telah berhasil
membuka mata masyarakat terutama didaerah pedesaan dalam penerapan teknologi maju
dan penyebaran penemuan baru lainnya.
Pengaruh dan upaya pengembangan berpikir kritis
dapat memberikan modifikasi (perubahan) hierarki sosial ekonomi. Oleh karena
itu pengembangan berpikir knitis bukan saja efektif dalam pengembangan pribadi
seperti sikap berpikir kritis, juga berpengaruh terhadap penghargaan masyarakat
akan nilai-nilai manusiawi, perjuangan ke arah persamaan hak-hak baik politik,
sosial maupun ekonomi. Bila dalam masyarakat tradisional lembaga-lembaga
ekonomi dan sosial didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang
berkuasa, maka dengan semakin pesatnya proses modernisasi tatanan-tatanan
sosial ekonomi dan politik tersebut diatur dengan pertimbangan dan
penalaran-penalaran yang rasional. Oleh karena itu timbullah lembaga-lembaga
ekonomi, sosial dan politik yang berasaskan keadilan, pemerataan dan persamaan.
Adanya strata sosial dapat terjadi sepanjang diperoleh melalui cara-cara
objektif dan keterbukaan, misalnya dalam bentuk mobilitas vertikal yang
kompetitif.
Salah satu kekuatan perubahan yang sangat kuat dan
sering tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah pendidikan. Walaupun
pendidikan di manapun merupakan lembaga sosial yang terutama berfungsi untuk
mempersiapkan anggotanya menjadi warga yang trampil dan bertanggung jawab
dengan penanaman dan pengukuhan norma sosial dan nilai-nilai budaya yang
berlaku, namun akibat sampingannya adalah membuka cakrawala dan keinginan tahu
peserta didik. Oleh karena itulah pendidikan dapat menjadi kekuatan perubahan
sosial yang amat besar karena menumbuhkan kreativitas peserta didik untuk
mengembangkan pembaharuan (innovation).
Di samping kreativitas inovatif yang membekali
peserta didik, keberhasilan pendidikan menghantar seseorang untuk meniti
jenjang kerja membuka peluang bagi mobilitas sosial yang bersangkutan. Pada
gilirannya mobilitas sosial untuk mempengaruhi pola-pola interaksi sosial atau
struktur sosial yang berlaku. Prinsip senioritas tidak terbatas pada usia,
melainkan juga senioritas pendidikan dan jabatan yang diberlakukan dalam menata
hubungan sosial dalam masyarakat.
Dengan demikian pendidikan sekolah sebagai unsur
kekuatan perubahan yang diperkenalkan dari luar, pada gilirannya menjadi
kekuatan perubahan dari dalam masyarakat yang amat potensial. Bahkan dalam
masyarakat majemuk Indonesia dengan multi kulturnya, pendidikan mempunyai
fungsi ganda sebagai sarana integrasi bangsa yang menanamkan saling pengertian
dan penghormatan terhadap sesama warganegara tanpa membedakan asal-usul dan
latar belakang sosial-budaya, kesukubangsaan, keagamaan, kedaerahan dan rasial.
Pendidikan sekolah juga dapat berfungsi sebagai peredam potensi konflik dalam
masyarakat majemuk dengan multi kulurnya, apabila diselenggarakan dengan benar
dan secara berkesinambungan.
Betapa pun masyarakat harus siap menghadapi
perubahan sosial budaya yang diniati dan mulai dilaksanakan dengan reformasi
yang mengandung makna perkembangan ke arah perbaikan tatanan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan
perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu
perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula
pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului
dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang
berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif
ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan tranformatif
adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif.
Hal ini dapat dideskripsikan bahwa perubahan sosial tentu membutuhkan
aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran
akan diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media
dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra ideologi
hegemonik, ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial.
Paulo Freire, pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis,
mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan
sosial. Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire, pendidikan
membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. Dengan
kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action.
Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan
kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat
memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis.
Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan
pembebasan.
Secara konseptual, ada tiga paradigma pendidikan
yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap
perubahan sosial.
Pertama, paradigma konservatif. Paradigma ini
berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu
keharusan alami, mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan
sejarah atau takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang
harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara
saja. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau
mempengarhui perubahan sosial, hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan
masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua.
Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif tidak
menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi
mereka. Mereka yang menderita, yakni orang orang miskin, buta huruf, kaum
tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka
sendiri. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih
sesuatu. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh
karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk
menunggu sampai giliran mereka datang, karena akhirnya semua orang akan
mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak. Paham konservatif hanya melihat
pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi.
Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola
oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini.
Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma
konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender
ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. Kurikulum sekolah secara jelas
bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur
sosial diluar sekolah, seperti sistem kapitalisme yang tidak adil
Kedua paradigma pendidikan Liberal. Kaum Liberal,
mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Namun bagi mereka pendidikan
sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas
pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Sistem
diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh
keteraturan (functionalism structural). Kalaupun terjadi distorsi maka yang
perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan
sistem.
Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana
untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan
nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Oleh
karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha
reformasi ‘kosmetik’ seperti perlunya: membangun gedung baru, memoderenkan
sekolah; komputerisasi; menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang
effisien seperti dynamics group, learning by doing, experimental learning dan
sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam
masyarakat.
Akar dari pendidikan semacam dapat ditelusuri dari
pijakan filosofisnya yakni, paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan
pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta proses
perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Yang terakhir adalah paradigma pendidikan kritis.
Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi
kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi
kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status
quo, maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara
fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada.
Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala
berpikir baik pendidik maupun peserta didik, menciptakan ruang bagi peserta
didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan
struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial.
Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Baik
guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak
saling mensubordinasi. Masing-masing pihak, mesti berangkat dari pemahaman
bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Sehingga yang perlu
dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan
menghafal, menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking
system).
Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak
berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga.
Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran
masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor
lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan
kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih
melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab
dan ketakberdayaan. Dalam dunia pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak
mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar
tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik.
Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti
secara buta perkataan dan pendangan guru. Proses pendidikan model ini tidak
memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu
permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘kebenaran’ dari guru,
tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi dari setiap konsepsi atas
kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan
dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini.
Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. Keadaan yang
di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi
akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika,
kreativitas, ‘need for achievement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial.
Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan
karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki
kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya ‘membangunan’, dan seterusnya. Oleh
karena itu ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi
pemicu perubahan.
Pendidikan dalam konteks ini juga tidak
mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah
sudah baik dan benar, merupakan faktor ‘given’; dan oleh sebab itu tidak perlu
dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar
murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigma
umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan
kedalam kesadaran naif ini.
Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis.
Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.
Pendekatan struktural menghindari ‘blaming the victims” dan lebih menganalisis
untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial, politik, ekonomi dan
budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. Paradigma kritis dalam
pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam
sistim dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana
sistim dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas
pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar
peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara
fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang
menggunakan model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran
kritis
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Perubahan sosial dan kebudayaan akan selalu terjadi,
ada perubahan yang cepat dan ada yang lambat. Faktor penyebab perubahan ada
yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang berasal dari luar.
Yang berasal dari masyarakat yaitu pertambahan penduduk, hubungan dengan
kebudayaan lain, penemuan baru, teknologi dan sebagainya. Sedangkan yang dari
luar adalah lingkungan sekitar, pengaruh kebudayaan lain dan sebagainya.
Perubahan sosial dan kebudayaan ada yang
direncanakan dan ada yang tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan akan
dilaksanakan oleh agen of change untuk memperoleh keadaan yang diinginkan agen
of change. Agen of change misalnya pemerintah, perusahaan pembangunan dan
sebagainya.
Setiap terjadi suatu perubahan, maka
masyarakat akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Tapi jika suatu masyarakat tertutup dari perubahan atau menolak maka akan
terjadi ketertinggalan budaya.