Kamis, 22 Desember 2016

Momentum Hari Ibu

Hari Ibu, Momentum untuk Kaum Ibu Masa Depan.


Hari ibu merupakan momentum dimana kita memberikan apresiasi kepada kaum ibu dengan kondisi apapun. Satu hal yang sering menjadi sebuah fenomena dlingkungan sekitar kita, dimana setiap orang beramai2 mengucapkan selamat hari ibu, mulai dari memberi hadiah, mengucapkan langsung atau hanya melalui sosmed diselipi dengan potongan foto sang ibu. Hal ini merupakan suatu yang wajar ,mengungkapkan ucapan terimakasih kepada sang ibu yang sudah banyak berkorban untuk anaknya. Didunia ini tidak ada satupun ibu yang tidak berkorban untuk anaknya, sekalipun anak yang tak diinginkan dia pasti mengorbankan sesuatu. Bahkan Islam pun sangat memuliakan Ibu, bagaimana kita sangat dianjurkan memuliakan ibunya pernah diingatkan bahwa tiga kali penghargaan teradap ibu, yang keempat barulah kepada ayah, artinya perempuan sangat mendapat penghargaan yang sangat tinggi dalam Islam.
Terkait dengan Hari Ibu, satu hal yang kadang dilupakan bahwa ketika dilihat secara historis banyak yang melenceng memaknai hari ibu. Bahkan ketika seseorang ditanya kenapa 22 desember disebut hari ibu kenapa tidak 21 april saja sekalian dengan hari kartini? Jarang ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Setiap tahun kita merayakan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu asal usul dari kegiatan tersebut.
Bila menelusuri sejarahnya, peringatan Hari Ibu sekarang ini dapat dikatakan kurang tepat. Peringatan Hari Ibu di negeri ini lebih banyak mengacu pada Mother’s Day di barat. Padahal, Hari Ibu di negeri ini mengacu pada perjuangan pahlawan-pahlawan perempuan pendiri bangsa. Pada 22 Desember 1928, organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di yogjakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kemudian, Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316/1959 menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional.
Sekarang Hari ibu dimaknai sangat dangkal dengan menjadikan hari tersebut sebatas moment pamer status untuk menghargai pengorbanan ibu. Sementara dalam sejaranya hari ibu muncul dari sebuah pergerakan yang sangat besar. Seharusnya peringatan Hari Ibu tidak hanya dimaknai sebagai hari mengungkapkan kasih sayang dan memanjakan ibu. Itu tidak salah, namun seharusnya kita mengambil semangat yang dimiliki para pahlawan perempuan seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, dan Rangkayo Rasuna Said. Semangat mereka adalah semangat memperjuangkan hak-hak perempuan.
Hari ini perjuangan kaum perempuan bukan hanya penghapusan deskriminasi terhadap kaum perempuan yang menitik beratkan pada faktor eksternal. Namun perjuangan yang relevan sekarang adalah pembangunan intelektual dan mental perempuan iu sendiri. Faktor dominan yang menjadi sumber permasalahan dalam mewujudkan kesetaraan gender hari ini bukan lagi karena tekanan dari kaum laki2 atau faktor eksternal saja, tapi permasalahannya adalah perempuan juga  tidak mampu meningkatkan kualitasnya (faktor internal).
 Perjuangan sekarang adalah bagaimana seorang perempuan mampu menjadikan dirinya berdaya melalui pengembangan intelektual dan mental yang kuat. Bukan perempuan perempuan yang terus mengangankan seorang pangeran kaya raya penuh cinta yang suatu hari akan hadir dalam dhidupnya dan setelah itu hidupnya akan berubah dengan apa yang diberikan oleh sang pangeran.  Perempuan harus mampu menciptakan perubahan mulai dari dirinya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain.
Dihari ibu ini mari kita mulai bergerak maju untuk meningkatkan kualitas perempuan dan mengedepankan rasionalitas. Memposisikan perasaan sebagai kontrol agar tidak membabi buta terbawa perasaan. Ketika perempuan Indonesia memiliki kualitas yang baik maka apapun kesulitan akan mampu dihadapi melalui kebijaksanaan, bahkan ketidaksetaraan yang didapat dr keluarga akan dapat berkurang dengan kemampuan memberikan pengertian yang bijak tanpa harus membuat pertentangan.
Kedepannya banyak tanggungjawab dipundak kita, dikatakan bahwa Perempuan tiang Negara jika 40% rakyat Indonesia yang menjadi tiang Negara rusak, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Kita merusak segalanya, mulai dari hal terkecil,orang tua,suami dan masyarakat bahkan keturunan kita akan ikut rusak karena rendahnya kualitas perempuan yang digadang-gadang sebagai sekolah pertama bagi anak. Mari berbenah untuk menjadi perempuan yang mampu menciptakan perubahan dari diri sendiri dan mampu menularkan manfaatnya bagi orang lain.

 
Tentang Penulis
Elfi Suharni
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Aktif di lembaga Keperempuanan salah satu organisasi Mahasiswa Islam

Ketua Bidang Internal KOHATI HMI Cabang Yogyakarta


Sabtu, 02 Juli 2016

MENUJU TAKBIRAN IDUL FITRI 2016

 sebuah memori
Tak terasa bulan ini berlalu begitu saja, tanpa ada memori yang benar benar membuatku terkagum kagum. Kurang dari seminggu lagi menuju hari kemenangan. Entahlah apa yang telah aku menangkan hari ini, tapi mau tak mau tetap akan merayakannya. Lebaran selalu memiliki makna tersendiri bagi yang merayaknnya. Lebaran di rumah  sepertinya akan sangat menyenangkan, lebaran di rumah selalu menjadi sebuah ritual yang  penuh dengan suka cita.
Bercerita tentang rumah mengingatkanku pada sebuah  memori yang lama tersimpan di alam bawah sadar. Suasana  hari-hari terakhir ramadhan di kampung sangat unik. Penduduk kampung akan meningkat drastis menjadi seperti  kota padat penduduk, jalanan semakin  macet, rumah akan mendadak ramai, layaknya sebuah pabrik. Penghuni rumah akan  menjadi tukang, koki, tukang kebun, seniman, designer dan semuanya mendadak menjadi multitalent.
Penghuni mulai sibuk mengganti posisi benda2 d ruang tamu, menyiapkan taman dadakan menyambut hari raya. Di dapur tidak kalah sibuk semua perabotan pecah belah akan keluar dari gudangnya dan siap untuk digunakan  pada  hari raya nanti. Seminggu bahkan lebih dapur di setiap rumah akan berasap hampir sepanjang hari, membuat kue bersama keluarga, ada yang memasa lontong,  rendang dan lauk untuk menyambut tamu d lebaran nanti. Suara cekikikan anak-anak juga tidak kalah heboh dengan para tetua tetua. Asyik bercengkrama dengan saudara yang mungkin belum pernah bertemu sebelumnya.
Suasana semarak menyambut lebaran juga akan sangat terasa ketika berada d area jam gadang, pasar atas, pasar lereng  dan pasar bawah. Di Jam Gadang para perantau sibuk berfoto mengabadikan moment mudiknya sembari memborong baju lebaran di Pasar Atas, kemudian menikmati sesaknya Pasar Lereng menuju Pasar Bawah untuk membeli sembako, lalu menyempatkan naik Bendi menuju pemberhentian angkot d Landbow.
Kebalikanya terjadi d kota ini, disini semakin mendekati lebaran, kota akan semakin sepi, warung makan mulai tutup satu persatu. Penghuni kost-kostan dan kontrakan akan se
makin berkurang. Akan banyak rumah kosong menjelang lebaran. Mungkin pas hari lebaran nanti kita bisa bermain bola kaki d jalan raya tanpa takut ada kendaraan yang lewat :D
Lebaran diperantauan akan sangat berkesan, bertemu dengan teman-teman seperjuangan, menikmati waktu bersama hingga akhirnya tertawa lepas menutupi kegundahan masing-masing. Seolah tidak ada yang bersedih. Tawanya akan semakin kencang untuk menunjukan bahwa mereka menikmati kesendirian masing masing.
Salam rindu dari perantauan...

Senin, 18 April 2016

Makalah Perubahan Sosial dan Pendidikan



PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
oleh Elfi Suharni

BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Bahwa berbagai cara perubahan dalam suatu masyarakat baik secara khusus sampai yang lebih luas, berawal dari sebuah kondisi masyarakat, bangsa telah dilanda berbagai macam masalah mulai dari kemiskinan, multikrisis, tirani, dan khususnya dalam bidang pendidikan yang tentunya seluruh elemen masyarakat menghendaki untuk melakukan suatu perubahan secara cepat. Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan-perubahan selama hidupnya. Ada perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, ada perubahan yang lambat ada pula perubahan yang cepat. Dengan diakuinya dinamika sebagai inti jiwa masyarakat, banyak sosiolog modern yang mencurahkan perhatiannya pada masalah-masalah sosial dan pendidikan dalam masyarakat.
Setiap saat masyarakat selalu mengalami perubahan. Jika dibandingkan apa yang tejadi saat ini dengan beberapa tahun yang lalu. Maka akan banyak ditemukan perubahan baik yang direncanakan atau tidak, kecil atau besar, serta cepat atau lambat. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan sosial yang ada. Dimana manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Oleh karena itu manusia selalu mencari sesuatu agar hidupnya lebih baik. Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak dahulu. Namun, dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya, yang sering berjalan secara konstan. Ia memang terkait dengan waktu dan tempat. Akan tetapi, karena sifatnya yang berantai, perubahan terlihat berlangsung terus, walau diselingi keadaan di mana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan.
Sebagai contoh kasus, dahulu keluarga sepenuhnya berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi anak-anak yang belum dewasa, sumber pengetahuan (pendidikan) dan keterampilan serta sumber ekonomi. Namun, pada masa sekarang, fungsi keluarga mengalami perubahan. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan dari keluarga, tetapi juga melalui berbagai media massa, seperti televisi, radio, koran dan internet. Perubahan sosial saat ini sangat kompleks, meliputi berbagi unsur yang ada pada masyarakat, begitu juga dengan masalah pendidikan yang selalu berkembang dikarenakan masyarakat yang sangat dinamis.
Atas dasar problema di atas maka, penulis akan membahas masalah tersebut dalam makalah yang berjudul perubahan sosial dan pendidikan (analisis geniusitas dan inklusifitas).

B.       RUMUSAN MASALAH
1.         Apa Definisi Perubahan Sosial Dan Pendidikan?
2.         Apa saja Teori-Teori Perubahan Sosial?
3.        Apa saja Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Perubahan Sosial Dan Pendidikan?
4.         Apa saja Apa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perubahan?
5.    Bagaimana Implikasi Perubahan Sosial Pada Penyelenggaraan Pendidikan?
C.      TUJUAN PEMBAHASAN
1.    Untuk mengetahui Apa Definisi Perubahan Sosial Dan Pendidikan.
2.    Untuk mengetahui Teori-Teori Perubahan Sosial.
3.    Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Perubahan Sosial Dan Pendidikan.
4.    Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perubahan.
5.    Untuk mengetahui Implikasi Perubahan Sosial Pada Penyelenggaraan Pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN


A.      DEFINISI PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
1.         Definisi Perubahan Sosial
Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.
Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-perubahan.
Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang mengalami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan yang berlangsung dengan cepat.
Ada beberapa ahli sosiologi yang memberikan definisi perubahan sosial, para sosilog maupun antropolog yang membahas definisi perubahan  sosial dan pendidikan. Diantaranya.
Selo Soemardjan: perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memenuhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
Mac Iver lebih suka membedakan antara utilitarian element dengan cultural element yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan manusia yang primer dan sekunder. Semua kegiatan dan ciptaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori di atas. Sebuah mesin ketik, printer, atau sistem keuangan merupakan utilitarian element karena benda-benda tersebut tidak langsung memenuhi kebutuhan manusia, tetapi dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan. Utilitarian element disebutnya civilization. Artinya, semua mekanisme dan organisasi yang dibuat manusia dalam upaya menguasai kondisi-kondisi kehidupannya. Kultur menurut Mac Iver adalah ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berfikir, pergaulan hidup,seni kesusastraan, agama, rekreasi dan hiburan. Sebuah potret, novel, drama, film, permainan, filsafat dan sebagainya, termasuk kultur karena hal-hal itu secara langsung memenuhi kebutuhan manusia. Perubahan-perubahan sosial dikatakannya sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
Gillin dan Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Gillin dan Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan-perubahn kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
William F. Ogburn berusaha memberikan pengertian tertentu, dia mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
Kingslay Davis mengartikan peerubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahn dalam hubungan antara  buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.
Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur sosial dan lembaga sosial masyarakat. Perubahan sosial meliputi perubahan dalam berbagai hal, seperti perubahan teknologi, perilaku, sistem sosial dan norma. Perubahan tersebut mempengaruhi individu dalam masyarakat tertentu. Dari pengertian-pengertian tersebut, bahwa dalam perubahan sosial yang berubah adalah struktur dan fungsi sosialnya. Contoh: Perubahan dalam struktur adalah perubahan jumlah penduduk, perubahan status sosial, perubahan pelapisan sosial, sedangkan perubahan dalam fungsi sosial antara lain ayah di rumah dan ibu bekerja. Di sini terjadi perubahan fungsi ayah dengan fungsi ibu.

2. Definisi Pendidikan
M.J. Langeveld: Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugastugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.
Stella van Petten Henderson : Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial.
Kohnstamm dan Gunning: Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri secara etis, sesuai denga hati nurani.
John Dewey: Aducation is all one with growing; it has no end beyond itself. (pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik dirinya).
H.H Horne : Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat dengan mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.
Carter V. Good Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.
Thedore Brameld Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah).
Definisi Pendidikan menurut Encyclopedia Americana: Pendidikan merupakan sebarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap ataupun keterampilan-keterampilan.
Pengertian Pendidikan versi Wikipedia Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.
Dari berbagai pengertian-definisi tersebut di atas dapat kita kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan gejala insani yang fundamental dalam kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia ke dunia peradaban. Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jatidirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.

B.       TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Banyak dari ahli filsafat dan sosiolog berpendapat bahwa kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Ada yang berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, misalnya perbahan dalam unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan.
Ada pula yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial bersifat periodik dan non-periodik. Pendapat-pendapat tersebut pada umumnya menyatakan bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian.
Pitirim A. Sorokin berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak aka berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingkaran perubahan-perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi.
William F. Ogburn menekankan pada kondisi teknologi dari kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan disamping aspek ekonomi, geografis, dan biologis. Ada beberapa ahli pula yang menyatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, satu atau semua akan menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
1.         Teori Siklus
Menurut teori siklus, proses peralihan masyarakat tidak berakhir pada tahap akhir yang sempurna, melainkan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan tahap berikutnya. Pada teori ini, perubahan sosial tidak dapat direncanakan atau diarahkan ke suatu titik tertentu, tetapi berputar-putar menurut pola melingkar. Jadi, perubahan sosial sebagai sesuatu yang berulang-ulang.
2.         Teori Perkembangan
Teori perkembangan disebut juga teori linier. Menurut pendapat teori ini, bahwa perkembangan menuju suatu arah/titik tertentu, yang dimulai dari tahap perkembangan awal menuju tahap perkembangan akhir.
Teori linier dibagi menjadi dua, yaitu teori evolusi dan revolusi. Teori evolusi melihat perkembangan secara lambat, sedangkan menurut teori revolusi, perubahan terjadi secara drastis (cepat).
3.         Teori Fungsional dan Konflik
Teori fungsional memandang bahwa perubahan sosial sebagai sesuatu yang tetap atau permanen dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan sosial dianggap mengacaukan keseimbangan rakyat. Proses pengacauan tersebut berhenti pada saat perubahan yang ada telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan yang bermanfaat (fungsional) akan diterima, dan perubahan yang tidak bermanfaat (disfungsional) akan ditolak.
Teori konflik menilai bahwa yang konstan adalah konflik sosial bukan perubahan. Perubahan hanyalah akibat dari adanya konflik. Jika konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga akan terus berlangsung.
4.         Teori Unilinier
Teori ini menyatakan bahwa masyarakat berkembang dari tahap sederhana menuju ke arah kompleks dan akhirnya mencapai kesempurnaan.
5.         Teori Universal
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap yang tetap. Karena masyarakat selalu berkembang dari kelompok homogen menuju masyarakat yang heterogen.
6.         Teori Multilinier
Teori ini menekankan pentingnya penelitian terhadap perkembangan tertentu dalam proses evolusi. Misalnya peralihan masyarakat berburu ke masyarakat bercocok tanam dengan implikasi kekeluargaannya.

C.      FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
Faktor-faktor penyebab perubahan sosial dan kebudayaan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan juga berasal dari luar. Yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri antara lain :
1.         Bertambahnya dan Berkurangnya Peduduk
Sentralisasi pemerintahan dan juga pusat lapangan kerja membuat banyak penduduk pedesaan melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Sehingga terjadi bertambahan penduduk di daerah perkotaan dan juga berkurangnya penduduk di daerah pedesaan. Kepadaatan pendudukan di kota besar telah melahirkan berbagai perubahan dengan pengaruh yang besar. Areal tanah yang dapat diusahakan menjadi lebih sempit; pengannguran semakin tampak. Banyak penduduk bertempat tinggal di tempat yang tidak layak dan tidak pada tempatnya seperti di kolong jembatan, di jalanan, di piarnggir sungai dan sebagainya.
Hal semacam itu membuat sistem sosial tidak terkendali. Dan perubahan sosial berkembang kearah yang lebih buruk.
2.    Penemuan-Penemuan Baru dan  Perkembangan Teknologi
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan-perubahan dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Discvery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat ataupun yang berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu.
Discovery baru menjadi invention kalu masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu. Sering kali proses dari discovery sampai ke invention mebutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta. Penemuan mobil misalnya dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S.Marcus (1875) yang membuat motor gas yang pertama. Sebetulnya sistem motor gas tersebut juga merupakan suatu hasil dari rangkaian ide yang telah dikembangkan sebelum Marcus. Meskipun demikian, Marcus lah yang membulatkan penemuan tersebut, dan yang untuk pertama kali yang menghubungkan motor gas dengan sebuah kereta sehingga dapat berjalan tanpa ditarik seekor kuda itulah saatnya mobil menjadi discovery. Jadi 30 tahun kemudian sesudah suatu rangkain sumbangan dari sekian banyak pencipta lain yang menambah perbaikan mobil tersebut, barulah sebuah mobil dapat mencapai suatu bentuk sehingga dapat dipakai sebagai alat pengangkut oleh manusia dengan cukup praktis dan aman. Bentuk mobil semacam itu yang mendapat paten di amerika serikat (1911) dapat disebut sebagai permulaan dari kendaran mobil yang pada masa sekarang menjadi salah satu alat yang amat penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan tercapainya bentuk tersebut, kendaraan mobil menjadi suatu invention.
Pada saat penemuan menjadi invention, proses inovasi belum selesai. Meskipun kira-kira sesudah 1911 produksi mobil dimulai, mobil masih belum dikenal ole selurruh masyarakat. Penyebaran ala pengangkutan tersebut harus dipropagandakan kepada khalayak ramai selain itu biaya produksi mobil demikaian tingginya sehingga hanya suatu golongan sangat kecil saja yang dapat membelinya. Masih diperlukan rangkain penelitian lain dan penemuan-penemuan lain yang akan dapat menekan biaya produksi. Satu persoalan lain yang juga harus dihadapi adalah apakah masyarakat sudah siap menerimanya karena misalnya diperlukan pembuatan jalan-jalan raya yanga baru. Seluruh proses tersebut merupakan rangkaian proses inovasi dari sebuah mobil.
Seperti halnya mobil, penemuan internet juga telah mengubah sistem sosial dan sendi pokok kehidupan masyarakat. Internet memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia kerena internet menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan Negara lain sehingga kebudayaan Indonesia terkikis oleh budaya global. Kebudayaan atau tradisi gotong royong semakin lama semakin menghilang. Apalagi setelah adanya jejaring sosial yang berupa facebook, twiter, dan sebagainya telah memberikan banyak perubahan pada hubungan sosial antara setiap orang. Jejaring sosial telah membuat hubungan sosial antara manusia yang saling  berjauhan menjadi lebih dekat tapi, seseorang lebih mempedulikan orang yang jauh dari pada orang yang didekatnya
3.         Pertentangan (Conflict) Masyarakat
Pertentangan masyarakat mungkin pula menjadi sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan yang kerap tejadi antara generasi tua dan generasi muda. Pertentangan-pertentangan demikian akibat ketidak sefahaman antara keduanya tentang cara pandang kehidupan sosial dan kebudayaan. Generasi muda menganggap geerasi tua itu kuno dan ketinggalan zaman, mereka lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan asing (khususnya kebudayaan barat) karena merasa kebudayaan asing lebih modern dan masa kini.
4.      Terjadinya pemberontakan
Revolusi yang meletus pada Oktober 1917 di rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar Negara Rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolute berubah menjadi dictator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk Negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan-perubahan yang mendasar.
D.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PERUBAHAN
1.      Faktor-Faktor yang Mendorong Proses Perubahan
Di dalam masyarakat yang terjadi perubahan terdapat faktor-faktor yang mendorong proses perubahan yang terjadi. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a.       Kontak dengan kebudayaan lain. Kontak langsung maupun tidak langsung telah mendorong terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Seperti contoh pengaruh adanya masyarakat asing didaerah tertentu dan juga adanya internet yang menyebarkan pengaruh kebudayaan asing.
b.      Sistem pendidian formal yang maju. Pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan untuk adanya perubahan yang menuju kearah yang lebih baik. SDM suatu tempat akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena mereka lebih dapat memanaatkan Alam dengan efektif dan efisien.
c.       Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat berpotensi untuk memajukan peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan telepon. Pada awalnya telepon tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang hebat mereka lebih meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui fungsi sesungguhnya maka karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat. Suatu perbuatan pasti diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita berkembang kearah yang lebih baik. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan yang maju. Setiap karya dapat berpotensi untuk memajukan peradaban manusia. Seperti karya atau penemuan telepon. Pada awalnya telepon tidak dianggap oleh masyarakat sebagai karya yang hebat mereka lebih meremehkannya. Tapi suatu ketika masyarakat mengetahui fungsi sesungguhnya maka karya tersebut menjadi sangat dihargai masyarakat. Suatu perbuatan pasti diawali oleh keinginan. Keinginan untuk maju membuat kita berkembang kearah yang lebih baik.
d.      Sistem terbuka lapisan masyarakat. Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertical yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai satus lebih tinggi. Identifikasi merupakan tingkah laku yang sedemikian rupa sehngga seseorang merasa berkedudukan sama dengan orang atau golongan lain yang dianggap lebih tinggi dengan harapan agar diperlakukan sama dengan golongan tersebut. Identifikasi terjadi dalam hubungan super ordinasi-subordinasi. Pada golongan yang berkedudukan  lebih rendah acap kali terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial sendiri. Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut status-anxiety. Status anxiety menyebabkan seseorang berusaha untuk menaikkan kedudukan sosialnya.
e.       Penduduk yang heterogen. Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi yang berbeda mudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
f.       Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
E.       IMPLIKASI PERUBAHAN SOSIAL PADA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Adanya pendidikan dapat mempengaruhi perubahan sosial, yang mana perubahan sosial nantinya akan mempunyai fungsi (1) melakukan reproduksi budaya, (2) difusi budaya, (3) mengembangkan analisis kultural terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional, dan (5) melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan.
Sekolah berperan sebagai reproduksi budaya yang maksudnya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.
Pada masa-masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru, seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, di mana nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial. Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.
Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya (cultural diffussion). Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut bukan hanya menyebarkan penemuan-penemuan dan informasi-informasi baru tetapi juga menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.
Pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan analisis kritis yang berperan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia. Pendidikan dalam era abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan. Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari ketergantungan dan kebiasaan berlindung pada orang lain, terutama pada mereka yang berkuasa. Pendidikan ini terutama diarahkan untuk mempenoleh kemerdekaan politik, sosial dan ekonomi, seperti yang diajukan oleh Paulo Friere. Dalam banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju, pendidikan orang dewasa telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga masalah kemampuan kritis ini telah berlangsung dengan sangat intensif. Pendidikan semacam itu telah berhasil membuka mata masyarakat terutama didaerah pedesaan dalam penerapan teknologi maju dan penyebaran penemuan baru lainnya.
Pengaruh dan upaya pengembangan berpikir kritis dapat memberikan modifikasi (perubahan) hierarki sosial ekonomi. Oleh karena itu pengembangan berpikir knitis bukan saja efektif dalam pengembangan pribadi seperti sikap berpikir kritis, juga berpengaruh terhadap penghargaan masyarakat akan nilai-nilai manusiawi, perjuangan ke arah persamaan hak-hak baik politik, sosial maupun ekonomi. Bila dalam masyarakat tradisional lembaga-lembaga ekonomi dan sosial didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang berkuasa, maka dengan semakin pesatnya proses modernisasi tatanan-tatanan sosial ekonomi dan politik tersebut diatur dengan pertimbangan dan penalaran-penalaran yang rasional. Oleh karena itu timbullah lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik yang berasaskan keadilan, pemerataan dan persamaan. Adanya strata sosial dapat terjadi sepanjang diperoleh melalui cara-cara objektif dan keterbukaan, misalnya dalam bentuk mobilitas vertikal yang kompetitif.
Salah satu kekuatan perubahan yang sangat kuat dan sering tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah pendidikan. Walaupun pendidikan di manapun merupakan lembaga sosial yang terutama berfungsi untuk mempersiapkan anggotanya menjadi warga yang trampil dan bertanggung jawab dengan penanaman dan pengukuhan norma sosial dan nilai-nilai budaya yang berlaku, namun akibat sampingannya adalah membuka cakrawala dan keinginan tahu peserta didik. Oleh karena itulah pendidikan dapat menjadi kekuatan perubahan sosial yang amat besar karena menumbuhkan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan pembaharuan (innovation).
Di samping kreativitas inovatif yang membekali peserta didik, keberhasilan pendidikan menghantar seseorang untuk meniti jenjang kerja membuka peluang bagi mobilitas sosial yang bersangkutan. Pada gilirannya mobilitas sosial untuk mempengaruhi pola-pola interaksi sosial atau struktur sosial yang berlaku. Prinsip senioritas tidak terbatas pada usia, melainkan juga senioritas pendidikan dan jabatan yang diberlakukan dalam menata hubungan sosial dalam masyarakat.
Dengan demikian pendidikan sekolah sebagai unsur kekuatan perubahan yang diperkenalkan dari luar, pada gilirannya menjadi kekuatan perubahan dari dalam masyarakat yang amat potensial. Bahkan dalam masyarakat majemuk Indonesia dengan multi kulturnya, pendidikan mempunyai fungsi ganda sebagai sarana integrasi bangsa yang menanamkan saling pengertian dan penghormatan terhadap sesama warganegara tanpa membedakan asal-usul dan latar belakang sosial-budaya, kesukubangsaan, keagamaan, kedaerahan dan rasial. Pendidikan sekolah juga dapat berfungsi sebagai peredam potensi konflik dalam masyarakat majemuk dengan multi kulurnya, apabila diselenggarakan dengan benar dan secara berkesinambungan.
Betapa pun masyarakat harus siap menghadapi perubahan sosial budaya yang diniati dan mulai dilaksanakan dengan reformasi yang mengandung makna perkembangan ke arah perbaikan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan tranformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Hal ini dapat dideskripsikan bahwa perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra ideologi hegemonik, ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial.
Paulo Freire, pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis, mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial. Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire, pendidikan membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan pembebasan.
Secara konseptual, ada tiga paradigma pendidikan yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap perubahan sosial.
Pertama, paradigma konservatif. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu keharusan alami, mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial, hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua.
Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Mereka yang menderita, yakni orang orang miskin, buta huruf, kaum tertindas dan mereka yang dipenjara, menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang, karena akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak. Paham konservatif hanya melihat pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi.
Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini. Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. Kurikulum sekolah secara jelas bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur sosial diluar sekolah, seperti sistem kapitalisme yang tidak adil
Kedua paradigma pendidikan Liberal. Kaum Liberal, mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural). Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem.
Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi ‘kosmetik’ seperti perlunya: membangun gedung baru, memoderenkan sekolah; komputerisasi; menyehatkan rasio murid-guru, metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group, learning by doing, experimental learning dan sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat.
Akar dari pendidikan semacam dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni, paham liberalisme, suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Yang terakhir adalah paradigma pendidikan kritis. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status quo, maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Dalam perspektif ini, pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik, menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial.
Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. Masing-masing pihak, mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog, saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal, menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system).
Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga.
Pertama kesadaran magis, yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan. Dalam dunia pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pendangan guru. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘kebenaran’ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami ‘makna’ ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini.
Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat ‘aspek manusia’ menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini ‘masalah etika, kreativitas, ‘need for achievement’ dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena ‘salah’ masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya ‘membangunan’, dan seterusnya. Oleh karena itu ‘man power development’ adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan.
Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor ‘given’; dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigma umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naif ini.
Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari ‘blaming the victims” dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial, politik, ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam sistim dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakan model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis


BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Perubahan sosial dan kebudayaan akan selalu terjadi, ada perubahan yang cepat dan ada yang lambat. Faktor penyebab perubahan ada yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang berasal dari luar. Yang berasal dari masyarakat yaitu pertambahan penduduk, hubungan dengan kebudayaan lain, penemuan baru, teknologi dan sebagainya. Sedangkan yang dari luar adalah lingkungan sekitar, pengaruh kebudayaan lain dan sebagainya.
Perubahan sosial dan kebudayaan ada yang direncanakan dan ada yang tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan akan dilaksanakan oleh agen of change untuk memperoleh keadaan yang diinginkan agen of change. Agen of change misalnya pemerintah, perusahaan pembangunan dan sebagainya.
Setiap terjadi suatu perubahan, maka masyarakat akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Tapi jika suatu masyarakat tertutup dari perubahan atau menolak maka akan terjadi ketertinggalan budaya.