sebuah memori
Tak terasa bulan ini berlalu
begitu saja, tanpa ada memori yang benar benar membuatku terkagum kagum. Kurang
dari seminggu lagi menuju hari kemenangan. Entahlah apa yang telah aku
menangkan hari ini, tapi mau tak mau tetap akan merayakannya. Lebaran selalu
memiliki makna tersendiri bagi yang merayaknnya. Lebaran di rumah sepertinya akan sangat menyenangkan, lebaran
di rumah selalu menjadi sebuah ritual yang
penuh dengan suka cita.
Bercerita tentang rumah
mengingatkanku pada sebuah memori yang
lama tersimpan di alam bawah sadar. Suasana
hari-hari terakhir ramadhan di kampung sangat unik. Penduduk kampung akan
meningkat drastis menjadi seperti kota
padat penduduk, jalanan semakin macet, rumah
akan mendadak ramai, layaknya sebuah pabrik. Penghuni rumah akan menjadi tukang, koki, tukang kebun, seniman,
designer dan semuanya mendadak menjadi multitalent.
Penghuni mulai sibuk mengganti
posisi benda2 d ruang tamu, menyiapkan taman dadakan menyambut hari raya. Di dapur
tidak kalah sibuk semua perabotan pecah belah akan keluar dari gudangnya dan
siap untuk digunakan pada hari raya nanti. Seminggu bahkan lebih dapur di
setiap rumah akan berasap hampir sepanjang hari, membuat kue bersama keluarga,
ada yang memasa lontong, rendang dan
lauk untuk menyambut tamu d lebaran nanti. Suara cekikikan anak-anak juga tidak
kalah heboh dengan para tetua tetua. Asyik bercengkrama dengan saudara yang
mungkin belum pernah bertemu sebelumnya.
Suasana semarak menyambut lebaran
juga akan sangat terasa ketika berada d area jam gadang, pasar atas, pasar
lereng dan pasar bawah. Di Jam Gadang
para perantau sibuk berfoto mengabadikan moment mudiknya sembari memborong baju
lebaran di Pasar Atas, kemudian menikmati sesaknya Pasar Lereng menuju
Pasar Bawah untuk membeli sembako, lalu menyempatkan naik Bendi menuju
pemberhentian angkot d Landbow.
Kebalikanya terjadi d kota ini,
disini semakin mendekati lebaran, kota akan semakin sepi, warung makan mulai
tutup satu persatu. Penghuni kost-kostan dan kontrakan akan se
Lebaran diperantauan akan sangat
berkesan, bertemu dengan teman-teman seperjuangan, menikmati waktu bersama
hingga akhirnya tertawa lepas menutupi kegundahan masing-masing. Seolah tidak
ada yang bersedih. Tawanya akan semakin kencang untuk menunjukan bahwa mereka
menikmati kesendirian masing masing.
Salam rindu dari perantauan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar